Featured image of post Review Buku: Tiga Pelajaran yang Nempel di Kepala (dan Satu Kutipan yang Menampar Halus)

Review Buku: Tiga Pelajaran yang Nempel di Kepala (dan Satu Kutipan yang Menampar Halus)

Halo semuanya! Fathimah di sini. 👋🏻

Hari ini aku menulis jurnal sambil ditemani wangi khas kertas tua dan udara sejuk dari AC perpustakaan langgananku. Tadi, waktu baru datang dan mencari tempat duduk yang pas, pandanganku tertuju pada seorang bapak sepuh yang sedang khusyuk sekali membaca di kursi pojokan dekat jendela. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, kacamata bacanya bertengger sedikit turun di hidung, tapi sorot matanya saat membalik lembar demi lembar buku benar-benar membuatku kagum. Ada ketenangan luar biasa yang menular dari postur tubuh beliau—seakan-akan beliau sedang duduk berhadapan dan mengobrol langsung dengan sang penulis dari lintas zaman.

Pemandangan hangat itu tiba-tiba membuatku teringat pada satu buku yang baru saja selesai aku baca akhir pekan lalu. Aku rasa, ini saat yang tepat untuk membagikan ulasannya kepada kalian. 📚

Buku ini… hmm, mari kita sebut saja sebagai “buku yang baru aku baca” ya. Rasanya isinya terlalu personal jika aku sebutkan detail judul dan penulisnya secara blak-blakan, namun terlalu berharga jika hanya aku simpan sendirian di kepala. Secara garis besar, buku ini membahas tentang bagaimana kita memandang hidup yang sering kali terasa melaju terlalu cepat, dan bagaimana cara kita merespons bisingnya dunia modern tanpa harus kehilangan kewarasan.

Tapi sebelum masuk ke isi bukunya, aku mau cerita sedikit. Akhir-akhir ini, aku sedang berusaha keras mendisiplinkan diri untuk mempraktikkan adab membaca. Dulu, aku sering merasa terburu-buru saat membaca buku, seolah sedang ikut perlombaan lari maraton. Pokoknya ada rasa bangga yang mengembang kalau bisa bilang, “Wah, bulan ini aku sukses tamat lima buku tebal!” Padahal, ketika ditanya isinya tentang apa, ingatanku malah nge-blank. Cuma ingat covernya doang. 😂

Nah, sekarang aku mengubah polanya agar kegiatan membaca tidak sekadar jadi ajang menumpuk angka.

  • Setiap kali membaca, aku selalu menyiapkan buku catatan kecil dan pena di sebelahku. Tujuannya sederhana: catat poinnya.
  • Kalau menemukan paragraf yang rasanya “kena” banget di hati, aku memaksa diri untuk jeda merenung.
  • Dan yang paling penting: praktik 1 hal kecil. Karena ilmu itu baru terasa hidup kalau sudah diikat dengan amal, sekecil apa pun itu.

Dari buku yang baru aku tamatkan ini, ada tiga pelajaran utama yang menurutku sangat relatable dengan keseharian kita semua. Mari kita bedah satu per satu!

1) Waktu Bukan Musuh yang Harus Dikalahkan, tapi Teman Perjalanan ⏳

Pelajaran pertama ini ibarat sentilan pelan namun telak di dahi. Seberapa sering kita merasa dikejar-kejar oleh waktu? Di era digital ini, sangat mudah bagi kita untuk merasa tertinggal. Kita membuka media sosial, melihat story teman seangkatan yang baru saja liburan keliling Eropa, teman lain yang baru menggelar syukuran rumah baru, atau kenalan yang baru pamer sertifikat kelulusan S2. Lalu, kita menatap layar HP sambil rebahan memakai piyama bolong favorit kita, dan tiba-tiba rasa panik menyergap. Kita merasa kalah cepat. Kita ingin buru-buru berlari menyusul mereka.

Buku ini mengingatkan kembali bahwa waktu setiap orang memiliki zona nyamannya sendiri-sendiri. Berlari terus-menerus tanpa tahu ke mana arah tujuan kita yang sebenarnya, hanya akan membuat kita kehabisan napas.

Contoh kecil: bayangkan kita sedang antre di kasir minimarket. Ternyata antrean kita lebih lambat karena ibu di depan kesulitan mencari uang pas. Reaksi otomatis kita biasanya menghela napas kasar, mengetuk-ngetukkan kaki, atau grumbling di dalam hati, “Duh, lama banget sih, aku buru-buru nih!” Padahal, jeda lima menit itu bisa kita manfaatkan untuk mengistirahatkan mata dari layar HP, memperhatikan sekeliling, atau sekadar berlatih sabar.

Waktu “terbuang” itu bukan musuh, melainkan jeda yang diberikan agar kita belajar menikmati proses menunggu. 🌿

2) Seni Berbicara Secukupnya dan Mendengar Sebanyak-banyaknya 👂

Di zaman di mana semua orang didorong untuk menjadi broadcaster lewat status WhatsApp, cuitan, atau unggahan story Instagram, kita seolah dituntut untuk selalu berbicara. Kita merasa harus punya opini tentang segala hal yang sedang viral. Kalau tidak ikut berkomentar, rasanya kurang up to date.

Penulis buku ini memberikan sudut pandang yang menyejukkan: Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut karena porsi mendengar memang seharusnya dua kali lipat lebih banyak daripada berbicara. Tapi mendengar di sini bukan sekadar diam menunggu giliran membalas omongan.

Sering kali kita mendengarkan curhatan teman hanya untuk mencari celah kapan kita bisa masuk dan menceritakan pengalaman kita sendiri. “Oh, kamu lagi capek banget kerjaan numpuk? Sama dong, aku kemarin malah sampai tipes saking capeknya…” Hayo, siapa yang sering tanpa sadar melakukan aduan nasib seperti ini? 😅

Di kehidupan sehari-hari, memberikan telinga seutuhnya adalah bentuk kasih sayang yang mahal. Saat ibu kita bercerita tentang masakannya hari ini, kadang kita hanya membalas dengan gumaman tak jelas sementara mata tetap terpaku pada layar TikTok.

Setelah membaca bagian ini, aku mempraktikkan satu hal kecil: kalau ada orang terdekat yang mengajak bicara, aku letakkan HP-ku dalam posisi tengkurap. Awalnya berat (tangan ini gatal ingin cek notifikasi), tapi kualitas percakapan yang dihasilkan jadi jauh lebih hangat. Orang yang berbicara merasa benar-benar dihargai.

3) Kesempurnaan Itu Ilusi yang Sangat Melelahkan ✨

Ini pelajaran ketiga yang paling susah dipraktikkan, tapi efeknya paling membebaskan jika berhasil dilakukan.

Kita sering terjebak dalam standar kesempurnaan tak masuk akal: pekerjaan harus selesai tanpa celah revisi, rumah harus rapi persis seperti katalog furnitur, bahkan feeds media sosial harus punya tone warna senada.

Buku ini membahas bagaimana mengejar kesempurnaan itu ibarat mengejar ujung pelangi—kita tidak akan pernah sampai, yang ada malah kelelahan sendiri. Dalam proses mengejar yang “sempurna”, kita lupa mengapresiasi hal-hal yang sebenarnya sudah “cukup baik” (good enough).

Contoh nyata di dapur: niatnya pagi ini ingin memasak telur mata sapi yang kuningnya mulus paripurna di tengah. Eh, saat diangkat pakai spatula, kuning telurnya pecah sedikit. Dulu, hal sepele ini bisa bikin mood berantakan. Padahal mau kuningnya bulat sempurna atau pecah berantakan, rasanya tetap sama gurihnya, tetap bergizi, dan tetap membuat perut kenyang! 😂

Mengakui bahwa kita manusia biasa yang tidak luput dari salah, gagal, dan ketidaksempurnaan adalah kunci kebahagiaan yang sering kita sepelekan.


Dari semua halaman yang aku baca, ada satu inti sari pemikiran sang penulis yang terus terngiang-ngiang di kepalaku. Ini aku parafrase ya (bukan kutipan persis):

“Kebijaksanaan sejati itu bukan pada seberapa banyak hal yang kita kumpulkan, tapi pada seberapa rela hati kita melepaskan hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan.”

Kalimat ini jleb banget. Selama ini kita terlalu sibuk menumpuk barang, menumpuk gelar, menumpuk validasi, sampai ransel kehidupan terasa berat. Padahal, melepaskan ekspektasi berlebih dan membuang gengsi justru membuat langkah jadi lebih ringan.

Membaca buku ini benar-benar memberi “gizi” untuk jiwaku. Rasanya seperti baru saja diajak mengobrol dari hati ke hati oleh seorang mentor kehidupan yang penuh welas asih—mungkin, sedamai yang dirasakan oleh bapak sepuh di seberang mejaku sekarang ini. Beliau masih di sana, masih tersenyum kecil sambil menatap lembar demi lembar bukunya dengan tenang. Pemandangan yang membuat hatiku ikut menghangat. 🤍

Semoga ulasan singkatku hari ini bisa jadi teman minum teh atau kopi kalian ya. Tidak semua pelajaran harus didapat dari buku tebal; kadang mengobrol dengan orang tua di rumah, melihat kesabaran tukang sapu jalanan, atau sekadar memperhatikan kucing yang tidur nyenyak di teras rumah juga bisa memberi kita pelajaran, asalkan hati kita mau “membaca”.

Yuk, kita mulai rutinitas membaca (membaca buku atau membaca kehidupan) dengan adab yang baik: catat poin penting, jeda merenung, dan praktikkan satu hal kecil.

Kalau kalian minggu ini lagi baca buku apa? Atau lagi belajar pelajaran hidup apa akhir-akhir ini? Boleh banget cerita ya. 😊✨

P.S. Bapak sepuh yang sedari tadi diam-diam aku perhatikan akhirnya menutup bukunya perlahan. Beliau berdiri, merapikan kursinya, lalu tanpa sengaja pandangan kami bertemu. Beliau mengangguk dan tersenyum ramah sebelum berjalan tenang keluar dari perpustakaan. Rasanya seperti baru saja mendapat restu tak tertulis untuk terus mencari ilmu dan memperbaiki diri sampai usia senja nanti. Tiba-tiba aku jadi kangen sekali dengan Kakek di kampung halaman. Telepon Kakek ah habis ini! 📞🤍

Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy